Jumat, 20 Maret 2020

Moodboster by Wattapd

(1) Kehidupanku Sebelum Mengenal Dirimu



Aku tidak tau perasaan ini disebut apa. Saat pertama kali melihatnya. Sorot matanya yang tajam dengan bulu mata yang lentik ikut menghiasinya. Senyum menawan dengan gigi tersusun rapih. Ya Allah, sempurna sekali makhluk mu yang satu ini bagiku.
Rasanya aku tidak ingin memalingkan pandanganku darinya. Menatapnya rasanya sangat menyenangkan. Suaranya yang lembut membuatku merasa damai.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa saat pandanganku bertemu dengannya. Sepersekian detik rasanya seperti aku manusia yang berbahagia di dunia. Kesedihanku terasa berakhir saat ku bersamanya.

jakarta, 21 october 2017

Kringggggg!!!
Lelaki itu mengerjapkan matanya berkali-kali, memastikan suara apa yang mengganggu pendengarannya.
"Ah sial, baru juga jam setengah tujuh" Ia membanting jam weker kesembarang arah, "Sokap sih yang ngidupin alarm!"
Rey mendengus kesal karena sesuatu telah mengganggu mimpinya. Rasa kantuk membuat kepalanya sedikit pusing, karena ia baru tertidur selama 2 jam.
"Bun, kalo ayah bilang nggak ya nggak!!"
"Tapi, yah"
"Gak usah tapi-tapian bun, udah ikutin aja!"
"Anjenggg! Pagi-pagi udah dibikin badmood! " Rey mengacak-acak rambutnya dengan kasar sambil berjalan ke arah toilet dengan langkah gontai, ia berdiri di depan cermin toilet seraya mengembalikan nyawanya, "Muka lo kusut banget" Ucapnya pada pantulan wajahnya di cermin toilet.
"Eh wait.." Rey merapihkan rambutnya dengan jari, "Sumpah ganteng nya nauzubilehhh. Ga perlu mandi udah ganteng inimah" Rey tertawa sendiri lalu mencuci mukanya dan menggosok gigi.
Setelah puas tersenyum ke arah pantulan wajahnya pada cermin, Rey berjalan ke arah lemari bajunya, "Saat kau terlalu rapuh Pundak siapa yang tersandar? Tangan siapa yang tak melepas? Ku yakin aku.... "
"Woy! Jangan nyanyi mulu gc turun udah jam berapa tuh!" Suara lantang dari balik pintu kamar Rey membuatnya sedikit terkejut.
Rey menatap pintu kamarnya sebentar lalu kembali membuang pandangannya, "Bahkan saat kau memilih, Untuk meninggalkan aku, Tak pernah lelah menanti Karena ku yakin.. kau akan kembali!!!" Bukannya berhenti bernyanyi Rey malah mengencangkan suaranya.
"Berisik Rey!!"
Rey berjalan ke arah pintu kamar lalu membukanya, "Lo yang berisik bangke! Ganggu kenyamanan orang tau gak?!"
Rain tersenyum simpul melihat garis hitam di wajah adiknya, "Lo tadi malem tidur dimana? Lo balik pagi kan? Gue aduin ayah mampus lo"
Rey terkekeh singkat,"Estee lo"
"Mata lo ada garis hitamnya ya! Lo begadang kan? Jangan bilang kalau lo mabuk lagi?"
Rey tidak menggubris perkataan kakaknya, ia melanjutkan langkahnya ke arah anak tangga.
"Pagi pangerannya Bunda" Sahut Agatha setelah melihat anak bungsunya menuruni anak tangga.
Rey masih berdiri di depan meja makan, "Bunda kapan pulang nya?"
"Tadi subuh jam 3" Jawab Agatha dengan senyuman semanis mungkin, "Kamu gak mau peluk bunda?"
"Nggak ah" Rey menarik kursi lalu mendaratkan bokongnya, "Rey sukanya yang kenceng-kenceng gak kendor kayak bunda"
"Enak aja kamu kalau ngomong" Agatha terkekeh mendengar jawaban anaknya, "Bunda ini masih kenceng tau!"
"Keren kan bun, si Rey bangun jam segini" Ujar Rain yang baru saja sampai.
"Ini dia nih pasti setan yang ngatur alarm gue" Rey menatap Rainly, Kakak perempuannya yang sedang meminum segelas susu, usianya hanya berbeda 2 tahun dengannya.
"Napa lo?" Rain melotot ke arah Rey yang duduk dihadapannya. Rey memutar bola matanya malas lalu mengambil sehelai roti tawar.
"Selamat pagi adek gue yang paling ganteng" Rain melembutkan suaranya, bermaksud mengejek adik lelakinya. Tidak ribut satu hari serasa ada yang menghilang baginya.
"Najis" Rey menjulurkan lidahnya seperti memuntah, "Gak usah so baik lo bangsuy"
Rain tersenyum miring, "Bun, liat deh si Rey masa pake anting kayak banci"
"Lo gak bisa bedain mana anting mana bukan hah?" Ucap Rey meremehkan, "Kakak gue katrok amat"
"Yang namanya benda nyangkel di kuping itu anting, Bapak Azka Aldric Geofrey terhormat"
Rey mengendikkan bahunya, "Suka-suka lo aja dah ya"
"Bunda" Ujar Rain seraya menghadap bundanya, "Masa Rey kupingnya di tindik gitu sih kayak anak gak keurus aja"
Rey melempar roti tawarnya yang tinggal setengah ke wajah kakaknya, "Bacot lo anjing"
Rain tersenyum kemenangan, niatnya mengganggu adiknya berhasil.
"Tuh bun sekarang malah berani lempar-lempar ke muka Rain" Ujar Rain sambil memperhatikan Bundanya yang sedang membantu Bu Em menyiapkan makanan.
"Kenapa sih?" Agatha terlihat tertarik dengan topik pembicaraan mereka dan langsung duduk disebelah Rey.
"Tuh" Rain menunjuk adik lelakinya yang duduk bersebrangan denganya, "Rey nindik kupingnya kayak anak gak keurus aja"
Agatha memperhatikan Rey dengan teliti, "Keren kok anak bunda"
Rain menghela napas, "Keren darimananya coba?"
"Buktinya si Sindi anak om Damar aja naksir. Oh iya Rey ngomong-ngomong si Sindi masih sering main?"
"Bunda ngapain nanyain medusa itu?" Rey berbalik menatap Agatha yang sedang sibuk membuat bekal.
"Lho emang kenapa? Dia cantik kok anaknya juga baik" Ujar Agatha dengan tangan yang masih sibuk menyiapkan bekal, "Kamu ada niatan nikah muda ga?"
"Ehek" Rey tersendak minuman yang baru saja meluncur di kerongkongannya, "Sama putri arabia aja Rey gak mau apalagi sama medusa macam itu?"
"Rey, kalau kamu punya istri kan enak. Ada yang merhatiin, nyiapin makanan, nyiapin pakaian" Ujar Agatha seraya memberikan bekal makanan pada Rey.
"Bun, Rey gak mau bawa makan. Bukan anak TK lagi" Tolak Rey mengembalikan bekal yang baru saja diberikan Bundanya tanpa menjawab perkataan Bundanya yang tidak berfaedah itu.
"Yaudah" Pasrah Agatha, "Tapi jangan lupa makan pas istirahat"
"Iya Bunda" Rey bangkit dari duduknya lalu menyalami tangan Bundanya, "Rey berangkat ya bun!!" Sambungnya seraya berlari keluar rumah.
"Hati-hati Rey!" Seru Agatha, "Kamu gak cium bunda?"
"Udah besar bun" Ujar Rey sebelum keluar pintu "Cium aja noh ayah biar gak ngomel-ngomel mulu"
"Kamu ini. Nanti langsung pulang ya jangan keluyuran!"
Rey tidak menjawab perkataan Bundanya karena ia sediri pun tidak yakin kalau akan pulang tepat waktu.
"Rey!!!" Rain berlari mengejar adiknya yang sudah sampai di depan pintu, "Gue bareng lo"
"Yonglek kemana?" Rey berbalik menatap kakaknya yang kini sudah berada di belakangnya.
Rain memutar bola matanya jengah, "Lo bisa gak gausah ngeledek pacar gue?"
"Emang bener kan pacar lo Yonglek"
"Yonglek bapak lo pitak!" Rain menggeplak kepala Rey dengan buku paketnya lalu berjalan mendahului Rey, "Gc! Udah jam setengah tujuh!"
"Bacot!" Rey menendang tas kakaknya lalu berlari ke arah garasi.
"Sakit bego!!"
Rey terkekeh, "Yang gue tendang tas lo, bego"
"Kena pantat gue, tolol"
"Gak perduli" Rey mengendikan bahu lalu duduk di atas motornya, "Pak, motor Rey udah dipanasin?"
"Sudah den" Jawab Pak Bambang, tukang kebun yang sudah biasa menyiapkan motor Rey sebelum ia pergi.
"Thanks bob" Jawab Rey seraya menyalahkan mesin motornya, "Gc tolol naek"
"Gak usah ngegas bego" Rain naik ke atas motor Sport milik adiknya.
Rey langsung melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Tidak ada yang mengeluarkan suara, mereka asik dengan pemikirannya masing-masing. Kampus Rain berada di jalan yang searah dengan Sekolah Rey, hanya berjarak beberapa kilometer saja.
Rey berhenti di depan gerbang kampus.
"Makasih, Anak punk oy-oy" Rain memberikan Helm lalu berlari masuk ke dalam kampusnya sebelum Rey memakan habis dirinya hidup-hidup.
Rey menaruh Helm di jok belakang lalu langsung melesat ke arah sekolahnya.
"Pak" Ujar Rey kepada Pak Satpam sekolahnya saat melewati gerbang sekolah.
Ia memarkirkan motornya di pojok parkiran, yang memang sudah ditempatkan untuknya dan teman-temannya.
Rey kembali berjalan ke arah gerbang lalu menyebrang menuju kafe tepat di depan sekolah.
Seperti biasa sebelum masuk sekolah ia dan teman-temannya nobar (nongkrong bareng) di kafe tersebut.
"Demi rakyat bikini bottem lo seriusan dateng sepagi ini?" Tanya Rian dengan nada tidak yakin, "Pas banget noh sama bunyi bel"
"Ada nenek lampir di rumah gue" Jelas Rey setelah membalas tos ala-ala mereka, "Mana gue baru tidur 2 jam, hoam" Rey menutup mulutnya dengan telapak tangan yang baru saja menguap.
"Kakak lo udah libur kuliah? Balik sekolah gue kerumah lo ya? " Ujar Abay.
"Wettt.." Andre menutup mulut Abay dengan jari telunjuk, "Kak Rain itu cuma milik babang Andre seorang"
"Latahan aja lo kek anak baru tenar" Jawab Bagas.
"Kok lo yang sewot?" Andre menatap Bagas dengan wajah perang, "Gak seneng lo sama gue?"
"Inget baperan itu sifatnya orang miskin" Jawab Bagas dengan alibinya, "Lo kalo baper temenan aja sonoh sama rakyat putri ratu"
"Emang bener kok, Kak Rain kan milik gue, bukan begitu bapak Rey? " Ujar Andre dengan yakin.
"Punya Ayah Bunda gue lah" Jawab Rey, "Lagian lo napa pada rebutan tuh Nenek lampir, cakep engga buluk iya"
"Anjir" Andre menggeleng-gelengkan kepalanya, "Lo sama kakak lo, masih beningan juga kakak lo"
"Ya jelas lah dia cewek" Rey memutar bola matanya jengah, "Gue begini aja masih banyak yang naksir"
"Kuy masuk" Ajak Fathur yang sudah muak mendengar perdebatan teman-teman nya yang tidak akan ada habisnya.
"Ntar ae sih, biasa lewat pintu samping, iya gak Rey?" Titah Abay sambil menyenggol tangan Rey dengan siku nya. Rey hanya mengangguk sebagai jawaban.
Rey dan mereka memang terkenal bandel di sekolah (terkecuali Fathur). Mereka sering masuk ruang BP karena terlibat masalah. Ya, tanpa mereka guru BP gak akan ada kerjaan. Guru juga udah bosen ngomelin mereka, karena gak berguna sama sekali. Iya memang bagus kalau pintar .. tapi, Rey pikir akan lebih baik jika dunia ini ada berbagai jenis orang.
"Masuk kuy. Gua pen latihan basket" Ajak Bagas seraya berjalan ke arah gerbang sekolah.
"Gerbang kan udah di tutup bego! Lo ngapain ke arah gerbang" Cibir Rian dengan arah pandang yang masih terfokus ke arah Bagas.
"Lo liat noh" Bagas menunjuk ke arah gerbang sekolahnya, "Yang jagain gerbang mbak Nisa. Jadi selow"
Mereka mengangguk lalu berjalan mengekori Bagas.
"Hello Mbak Nisa" Bagas melambaikan tangan kanannya, "Saya punya sulap loh"
"Eh Bagas" Jawab Nisa dengan semburan merah pada pipinya, Bagas memang terkenal Playboy cap kakap seantero sekolah. Wajahnya yang tampan dengan sikapnya yang ramah membuat kaum hawa dengan mudah menaruh harapan.
"Bimsalabim" Bagas memainkan tangan kanannya dengan mata yang terpejam, lalu menyatukan ibu jari dengan telunjuknya berbentuk love, "Bahkan saat saya memejamkan mata saya masih bisa memberi cinta ke Mbak"
"Crott" Seandainya mereka sedang ada di dalam Webtoon mungkin Nisa sudah mimisan.
"Ah Bagas bisa aja"
"Mbak, ngomong-ngomong panas lho di luar sinih, tolong dong bukain gerbangnya" Ujar Rey yang sudah muak melihat tingkah temannya.
Nisa mengangguk lalu membuka gerbang sekolah, "Silahkan masuk tapi jangan bilang Pak Juan kalau saya meloloskan kalian"
Andre menautkan kedua alisnya, "Gak usah takut lah Mbak, kan Rey keponakan yang punya yayasan"
Nisa terkekeh singkat, "Hehe Mbak lupa"
"Ngoceh mulu lo pada" Rey berjalan cepat ke arah koridor sekolah.
"Lo mau kemana?" Tanya Fathur seraya melangkah mengejar Rey.
"Boker, lo mau ikut?"
Fathur menghentikan langkah nya, "Pagi-pagi udah setoran"
"Kak Rey!"
"Kak!!"
"Itu cewek receh amat sih" Rey tetap melanjutkan langkahnya di koridor sekolah.
"Kak tunggu keg dih!" Ujarnya sambil memegang tangan Rey.
Rey hanya menoleh seraya melepas tangannya yang di pegang siswi tersebut.
"Dipanggil Pak Ben"
"Penting?"
"Penting keg nya. Keg kakak buat aku"
"Oh"
"Kakak jangan cuek-cuek dong" Ujar Sintia menarik tangan Rey kembali.
"Heh!!" Sindi menarik tangan Sintia yang melingkar di lengan Rey, entah dari mana ia datang "Jangan deketin cowok gue, biji cabe!"
Rey menghela napas gusar, emosinya selalu tinggi kalau sudah bertemu dengan Sindi.
Sindi adalah teman sekelas Rey sewaktu kelas 10 namun di kelas 11 dan 12 Rey meminta kepada guru agar tidak disatukan kelas dengan Sindi.
"Lepas, medusa! " Ujar Rey melepas tangannya dari genggaman Sindi.
Sindi tersenyum, "Selamat pagi pangeran aku. Mana kuda poni kamu?"
Rey memutar bola matanya. Mana ada pangeran naik kuda poni?
"Geofrey! Saya ingin bicara" Teriak Pak Ben menghampiri Rey.
"Kalian sedang apa disini?" Tanya Pak Ben pada Sindi dan Sintia, "Sudah bunyi bel, sanah masuk kelas"
"Saya mau nemenin Rey pak" Jawab Sindi enteng, sedangkan Sintia sudah berlari ke arah tangga.
"Masuk!" Ujar Pak Ben sambil menunjuk ke arah tangga.
"Ish, sebentar napa pak" Sindi menghentakkan kakinya ke lantai, "Nanti tunggu aku di kantin ya?"
"Gak" Jawab Rey.
"Yaudah aku ke kelas kamu"
"Serah lo"
Sindi tersenyum lalu melangkah ke arah tangga.
"Rey, tugas kimia kamu udah 2 minggu gak dikumpulkan. Sudah saya kasih dispensasi tapi kamu malah tetap bodo amat. Besok hari terakhir kalau tidak. Ya tidak dapat nilai" Kini dia bicara pada Rey.
"Atur aja"
"Kamu itu keterlaluan ya!!"
"Ah elah lo gajian juga dari murid" Ujarnya lalu meninggalkan Guru Kimia yang terkenal killer itu.
Ya, Rey memang seperti ini. Namun, ia sombong bukan karena ia anak dari Investor terbesar di sekolah nya. Ia tidak pernah menyombongkan diri karna uang.
Rey seperti itu karena memang sifatnya sedari lahir. Belum ada satupun orang yang bisa mengetuk hatinya yang keras.
Bahkan dengan orang-orang terdekat pun Rey masih bersikap dingin.
Rey berjalan ke arah ruangan seni musik.
Brakkk!!
"Maaf kak maaf aku gak sengaja" Ujar Selsa, adik kelas Rey yang terkenal sebagai murid teladan di sekolahnya.
Rey hanya memperhatikannya yang sedang jongkok merapihkan beberapa buku yang terjatuh di lantai.
Rey kembali melanjutkan langkahnya di koridor sekolah.
Selsa menghembuskan napas gusar, "Gak ada niatan bantu sedikitpun?" Ucapnya pada diri sendiri lalu melanjutkan kembali langkahnya.
Rey sempat mendengar ucapan Selsa namun ia tidak memperdulikan, mungkin itu hanya modus untuk mendekati Rey. Begitulah pemikirannya.
Rey berbelok ke koridor yang sangat sepi karena jarang murid datang ke tempat ini di pagi hari.
"Gua dimarih ae lah sampe pulang" Ujar Rey sambil memetik senar gitar, "Sial, mood gua bener-bener hancur hari ini"

Moodboster by Wattapd

(1) Kehidupanku Sebelum Mengenal Dirimu Aku tidak tau perasaan ini disebut apa. Saat pertama kali melihatnya. Sorot matanya ya...